Belajar Dan Berbagi

Cerpen Sahabat





 “Aku Berbeda”
#Noprianto97
Terik mentari begitu terasa di siang itu ,  rerumputan di tengah lapang nampak terkulai lemas seakan ingin bersembunyi dan berharap senja segera menjemput terik sang surya   . Namun,hembusan angin yang mengiringi siang itu terasa begitu menyejukkan .Alunan merdu kicau burung – burung kecil yang sedang bertengger diatas pepohonan yang sejenak nampak beristirahat riang diatas dahan – dahan yang berjejer kokoh .  Daun – daun yang saling bergesekan seakan melantunkan nada – nada tertentu dari hembusan angin , hingga suara ranting – ranting kecil yang berjatuhan ikut mengiringi .
                Kebersamaan nampak begitu terasa  kala waktu istirahat di sebuah sekolah menengah atas  yang terletak disalah satu sudut kota jakarta itu . Siswa – siswi nampak saling bercengkrama hingga berkumpul untuk sekedar melayangkan candaan satu sama lain . Namun , pemandangan berbeda terlihat di salah satu sudut sekolah , tepatnya di bawah pohon rindang di depan perpustakaan sekolah itu . Seorang gadis kecil yang memakai jilbab putih sepinggang  dengan sebuah pin kupu – kupu melekat di jilbab anggunnya nampak dengan nyaman duduk sendirian disalah satu tempat duduk yang berjejer di bawah pohon tersebut .  Tanpa memperdulikan sekelilingnya ,ia nampak terus membolak – balikkan lembar demi lembar sebuah buku kecil yang selalu menemaninya . Sebuah pena cantik berwarna merah muda seakan begitu akrab dengan jari – jari di tangan kanannya yang dengan lancarnya mengukir setiap rangkaian goresan tinta di buku kecil itu .Setiap lembar dari buku itu seolah menjadi tempat terbaik untuk mencurahkan semua yang dia rasakan setiap waktunya . Namanya Felycia , dia merupakan siswi kelas 3 di sekolah itu . Dia memang dikenal sebagai sosok penyendiri ,bahkan tak ada yang pernah melihat dia bercengkrama dengan siswi lain terhitung sejak ia baru pindah ke sekolah itu tiga bulan lalu yang ternyata merupakan sekolah ketiga yang ia tempati sejak ia duduk di bangku SMA .Dia sebenarnya termasuk salah satu siswi yang cukup menonjol dan berprestasi .Ia pindah dari dua sekolah berbeda terdahulu dengan alasan yang sama , yaitu suasana sekolah yang tidak nyaman baginya .
Tidak ada yang tau alasan ia enggan bergaul , setiap kali ada siswi yang mencoba mendekatinya , ia seakan selalu menghindar . Hal itu nampak begitu terlihat di siang itu , dikala Ayu yang merupakan teman satu kelasnya memberanikan diri untuk mendekatinya . “Hey Fely , aku boleh duduk disamping kamu ?” ucap Ayu . Tak ada jawaban yang terdengar dari mulut Felycia , suasana nampak begitu hening diwajah Fely . “Fel , besok sore rencananya kami mau kerja kelompok dirumahku buat ngerjain tugas Fisika yang kemarin , kamu mau ikut nggak ? aku jemput loh “ ucap Ayu dengan sedikit candaan menggoda Fely . Pertanyaan Ayu kembali tidak mendapat jawaban , Fely terlihat hanya sedikit melirikkan matanya ke arah Ayu tanpa diketahui maksudnya  . Felycia nampak lebih nyaman menggoreskan pena di buku kecilnya itu . “Fel , kamu nulis apaan sih ? serius amat dari tadi “ucap Ayu yang penasaran hingga tangannya nampak lancang mencoba mengambil buku Felycia . Fely nampak begitu terganggu “balikin buku aku , kamu nggak berhak membaca itu . aku tegaskan sekali lagi sama kamu , jangan pernah ganggu aku “ tegas Fely yang nampak marah dengan Ayu sembari bergegas meninggalkan Ayu . Ayu nampak begitu heran , hanya duduk terdiam sembari melihat Fely yang meninggalkannya menuju ruang kelas .  Ting...ting...ting...bel pulang sudah terdengar , Felycia melihat kearah jam yang melingkar di tangan kirinya yang memang sudah menunjukkan pukul 13.00 . Siswa – siswi nampak berhamburan keluar dari ruang kelas . “Fel ,aku duluan ya “ ucap salah satu teman kelasnya ,sembari ia membalas dengan sebuah senyuman manis . Felycia nampak melangkahkan kakinya menuju tempat ia memarkirkan sepeda berwarna hijau yang lengkap dengan keranjang lucu di depannya, dan segera ia bergegas pulang .
Malam harinya nampak begitu indah , bintang nampak berjejer rapi dilangit mengelilingi bulan yang terasa  memancarkan cahaya ketenangan dimalam itu . Setidaknya hal itu begitu dirasakan Felycia yang sejak tadi memandangi langit dari balik kaca jendela kamarnya .  Ia terlihat tak sekalipun memalingkan pandangannya dari langit , hatinya nampak begitu tentram,sesekali senyuman terukir di bibir manisnya . Tiba – tiba “Fel,kamu belum tidur ? “ucap ibunya yang terlihat membuka pintu kamar Felycia . Ibunya terlihat masuk ke kamar Fely dan duduk mendekati Felycia . “Nak,tadi sore Ayu ke sini .  Dia nyariin kamu “ ucap ibunya sambil mengelus kepala Felycia . “Mau ngapain dia kesini bu ? terus ibu bilang apa sama dia ?” tanya Fely dengan nada yang cukup tinggi . “Nak , kamu nggak boleh gitu sama teman – teman kamu . Sampai kapan kamu terus menyendiri begini . Mereka tulus mau berteman sama kamu “jawab ibunya dengan halus . Felycia terlihat kembali mengarahkan pandangannya ke langit . “bu , Fely lebih nyaman sendiri kayak gini . Fely gak mau mereka mengganggu hidup Fely seperti teman – teman di sekolah Fely sebelumnya,Fely Cuma mau hidup tenang bu “tegas Felycia . “Nak ,  ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu . Ibu hanya mau melihat kamu selalu merasa bahagia,ibu nggak mau melihat kamu terbenam dalam belenggu kesendirian seperti ini nak . Yasudah , sekarang kamu tidur ya ,sudah larut malam ini “ucap ibunya sambil mengajak Fely ke tempat tidurnya  . “Selamat malam ya nak “ tambah ibunya sambil mendaratkan kecupan di kening Fely .
Waktu terus berlalu , di hari itu suasana di sekolah  tidak berbeda dari hari biasanya . Hanya saja , Ayu terlihat begitu gelisah  di meja tempat duduknya di kelas . Pandangannya fokus tertuju kearah meja tempat duduk Felycia yang sudah 3 hari tidak masuk sekolah karena sakit. “Kemana Fely ? apa sakitnya cukup parah  ? “ tanya Ayu dalam hatinya  . Seakan tidak mau rasa penasarannya memuncak , Ayu berinisiatif untuk menjenguk ke rumah sakit tempat Felycia dirawat . Sesampainya dirumah sakit , Ayu mendapati ibu Felycia yang terlihat menangis di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ‘UGD’  itu . “Bu , mana Fely ? bagaimana keadaannya ?” tanya Ayu dengan cukup cemas . Mendadak ibu Felycia langsung memeluk Ayu “yu , sakit Fely semakin parah . Sebenarnya 3 tahun lalu dia di  diagnosa mengidap kanker . Dia sengaja tidak memberitahukan penyakitnya pada teman – temannya karena dia malu . Dia merasa minder pada kalian , dia bahkan rela melawan kesepiannya karena itu “ ucap ibu felycia yang terus mengucurkan air mata dalam pelukan ayu . “tapi kenapa dia sampai merasa seperti itu buk ? aku dan teman – teman ikhlas ingin berteman dengannya . Aku sama sekali tidak menilai latar belakang Fely , bahkan kami yang merasa minder padanya karena dia terus menjauhi kami” jawab Ayu yang nampak terbawa keharuan . Tiba – tiba “buk , pasien sudah sadar ,dia berhasil melewati masa kritisnya “ tegas salah satu perawat yang keluar dari ruang tempat Felycia dirawat . Ayu beserta keluarga felycia yang lain bergegas melihat keadaan Fely . “Alhamdulillah kamu sudah sadar nak “ucap ayah Fely dengan perasaan begitu bahagia . “Fel” Ayu memanggil Felycia dengan lembut sembari mendekat kearah Felycia. Ayu tampak begitu kaget melihat keadaan Felycia , tubuhnya begitu kurus , rambut Felycia tampak berguguran hingga 80 % botak  akibat kemoterafi yang harus ia jalani selama ini, raut wajahnya begitu pucat . Kondisi rambutnya yang sudah mulai berguguran sejak beberapa bulan ini tertutup dengan anggun dibalik jilbabnya . Bahkan tidak pernah menimbulkan kecurigaan teman – temannya terhadap kondisi yang dialami Fely selama ini . “ngapain kamu disini ?” jawab Fely sambil memalingkan wajahnya dari Ayu .Terlihat air mata mulai jatuh di pelupuk mata  Felycia ,seakan hatinya spontan meluapkan kesepiannya selama ini . “Fel , kamu nggak seharusnya menyembunyikan penderitaan kamu seperti ini . Aku dan teman – teman yang lain akan merasa sangat bahagia jika kamu mau membaur bersama – sama . Harusnya kita bisa saling memangku , saling berbagi satu sama lain . Pundak kami masih cukup kuat untuk kamu bersandar Fely” ucap Ayu yang sudah tidak mampu lagi menahan tangisnya . Perlahan kedua tangannya saling bergantian menyeka air mata yang terjun bebas dari matanya  yang berbinar .  “Kalian tidak mengerti yang aku rasain selama ini yu,aku berbeda dengan kalian,kamu lihat sendiri kondisi aku yang mungkin menjijikkan bagi kalian, aku nggak mau cum jadi beban buat kalian . Dengan sakit yang menggerogoti tubuhku ini,hanya akan membuat kalian menjauhiku seperti teman – teman di sekolahku terdahulu “ tegas Felycia dengan tangisan yang nampak memuncak .”Nggak Fel . Aku dan teman – teman tulus ingin berteman dengan kamu , nggak ada yang bakalan nyakitin kamu . Dan sekarang kamu harus lawan sakit ini , kemudian kita awali kembali semua ini bersama – sama . Tangan kami akan selalu terbuka menyambut  kamu Fel “jawab Ayu yang nampak erat menggenggam tangan Fely.  Felycia nampak begitu terharu ,semuanya larut dalam suasana saat itu . Felycia memeluk Ayu dengan begitu erat , tangisannya seolah pecah ketika itu . Fely tampak begitu bahagia , perlahan seolah  beban dalam hidupnya mulai mampu dilebur .
Keesokan harinya , Ayu  dan teman – temannya yang lain berinisiatif mengumpulkan dana untuk biaya pengobatan Felycia . Mulai dari keliling di sekolah , hingga turun kejalanan sepulang mereka sekolah demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk Fely . Mereka tampak begitu bersemangat , meski keringat mengucur deras di tubuh ,terik mataharipun tidak menyurutkan niat mereka sedikitpun .Ketika dana sudah cukup banyak terkumpul , mereka langsung memberikannya kepada Felycia .Fely nampak seperti menemukan sebuah dunia baru yang dipancarkan dari ketulusan teman – temannya ,seperti kekuatan lebih untuk bisa terus bertahan hidup .
 Setiap detik terus berganti menuju menit hingga jam disetiap harinya. Hingga Senja ikut bergantian dengan sang rembulan memancarkan sinarnya . Dunia seakan turut merasakan kebahagian yang sudah kembali terlihat . Dihari itu , Felycia nampak seperti menjalani kehidupan barunya di sekolah .Dia sudah mulai membaur dan berkumpul bersama teman – temannya di sekolah .Suasana baru yang tidak ia rasakan sebelumnya. Kebahagian nampak terukir jelas di raut wajahnya , gelak tawa yang dulunya seolah bersemayam lelap dalam belenggu kesendiriannya , kini mulai menampakkan diri bersama semua teman – temannya . Felycia benar – benar mendapat pancaran hidayah  yang mulai mampu menyinari kesepiannya selama ini , seolah tak merasakan apapun dari sakit yang ia derita . Meskipun masih harus mengakrabkan diri dengan butiran – butiran obat setiap harinya , tidak mengurangi semangatnya untuk sembuh . <Keep going on. I trust ,God blest me>#97
                      ~~THE END~~
0 Komentar untuk "Cerpen Sahabat"

Back To Top