Terik mentari begitu terasa di siang itu , rerumputan di tengah lapang nampak terkulai
lemas seakan ingin bersembunyi dan berharap senja segera menjemput terik sang
surya . Namun,hembusan angin yang mengiringi siang
itu terasa begitu menyejukkan .Alunan merdu kicau burung – burung kecil yang
sedang bertengger diatas pepohonan yang sejenak nampak beristirahat riang
diatas dahan – dahan yang berjejer kokoh . Daun – daun yang saling bergesekan seakan
melantunkan nada – nada tertentu dari hembusan angin , hingga suara ranting –
ranting kecil yang berjatuhan ikut mengiringi .
Kebersamaan nampak begitu terasa
kala waktu istirahat di sebuah sekolah
menengah atas yang terletak disalah satu
sudut kota jakarta itu . Siswa – siswi nampak saling bercengkrama hingga
berkumpul untuk sekedar melayangkan candaan satu sama lain . Namun ,
pemandangan berbeda terlihat di salah satu sudut sekolah , tepatnya di bawah
pohon rindang di depan perpustakaan sekolah itu . Seorang gadis kecil yang
memakai jilbab putih sepinggang dengan
sebuah pin kupu – kupu melekat di jilbab anggunnya nampak dengan nyaman duduk
sendirian disalah satu tempat duduk yang berjejer di bawah pohon tersebut
. Tanpa memperdulikan sekelilingnya ,ia
nampak terus membolak – balikkan lembar demi lembar sebuah buku kecil yang
selalu menemaninya . Sebuah pena cantik berwarna merah muda seakan begitu akrab
dengan jari – jari di tangan kanannya yang dengan lancarnya mengukir setiap
rangkaian goresan tinta di buku kecil itu .Setiap lembar dari buku itu seolah
menjadi tempat terbaik untuk mencurahkan semua yang dia rasakan setiap waktunya
. Namanya Felycia , dia merupakan siswi kelas 3 di sekolah itu . Dia memang
dikenal sebagai sosok penyendiri ,bahkan tak ada yang pernah melihat dia
bercengkrama dengan siswi lain terhitung sejak ia baru pindah ke sekolah itu
tiga bulan lalu yang ternyata merupakan sekolah ketiga yang ia tempati sejak ia
duduk di bangku SMA .Dia sebenarnya termasuk salah satu siswi yang cukup
menonjol dan berprestasi .Ia pindah dari dua sekolah berbeda terdahulu dengan
alasan yang sama , yaitu suasana sekolah yang tidak nyaman baginya .
Tidak ada yang tau alasan ia enggan bergaul , setiap kali
ada siswi yang mencoba mendekatinya , ia seakan selalu menghindar . Hal itu
nampak begitu terlihat di siang itu , dikala Ayu yang merupakan teman satu
kelasnya memberanikan diri untuk mendekatinya . “Hey Fely , aku boleh duduk
disamping kamu ?” ucap Ayu . Tak ada jawaban yang terdengar dari mulut Felycia
, suasana nampak begitu hening diwajah Fely . “Fel , besok sore rencananya kami
mau kerja kelompok dirumahku buat ngerjain tugas Fisika yang kemarin , kamu mau
ikut nggak ? aku jemput loh “ ucap Ayu dengan sedikit candaan menggoda Fely .
Pertanyaan Ayu kembali tidak mendapat jawaban , Fely terlihat hanya sedikit
melirikkan matanya ke arah Ayu tanpa diketahui maksudnya . Felycia nampak lebih nyaman menggoreskan
pena di buku kecilnya itu . “Fel , kamu nulis apaan sih ? serius amat dari tadi
“ucap Ayu yang penasaran hingga tangannya nampak lancang mencoba mengambil buku
Felycia . Fely nampak begitu terganggu “balikin buku aku , kamu nggak berhak
membaca itu . aku tegaskan sekali lagi sama kamu , jangan pernah ganggu aku “
tegas Fely yang nampak marah dengan Ayu sembari bergegas meninggalkan Ayu . Ayu
nampak begitu heran , hanya duduk terdiam sembari melihat Fely yang
meninggalkannya menuju ruang kelas . Ting...ting...ting...bel
pulang sudah terdengar , Felycia melihat kearah jam yang melingkar di tangan
kirinya yang memang sudah menunjukkan pukul 13.00 . Siswa – siswi nampak
berhamburan keluar dari ruang kelas . “Fel ,aku duluan ya “ ucap salah satu
teman kelasnya ,sembari ia membalas dengan sebuah senyuman manis . Felycia
nampak melangkahkan kakinya menuju tempat ia memarkirkan sepeda berwarna hijau yang
lengkap dengan keranjang lucu di depannya, dan segera ia bergegas pulang .
Malam harinya nampak begitu indah , bintang nampak berjejer
rapi dilangit mengelilingi bulan yang terasa
memancarkan cahaya ketenangan dimalam itu . Setidaknya hal itu begitu
dirasakan Felycia yang sejak tadi memandangi langit dari balik kaca jendela
kamarnya . Ia terlihat tak sekalipun
memalingkan pandangannya dari langit , hatinya nampak begitu tentram,sesekali
senyuman terukir di bibir manisnya . Tiba – tiba “Fel,kamu belum tidur ? “ucap
ibunya yang terlihat membuka pintu kamar Felycia . Ibunya terlihat masuk ke
kamar Fely dan duduk mendekati Felycia . “Nak,tadi sore Ayu ke sini . Dia nyariin kamu “ ucap ibunya sambil
mengelus kepala Felycia . “Mau ngapain dia kesini bu ? terus ibu bilang apa
sama dia ?” tanya Fely dengan nada yang cukup tinggi . “Nak , kamu nggak boleh
gitu sama teman – teman kamu . Sampai kapan kamu terus menyendiri begini . Mereka
tulus mau berteman sama kamu “jawab ibunya dengan halus . Felycia terlihat
kembali mengarahkan pandangannya ke langit . “bu , Fely lebih nyaman sendiri
kayak gini . Fely gak mau mereka mengganggu hidup Fely seperti teman – teman di
sekolah Fely sebelumnya,Fely Cuma mau hidup tenang bu “tegas Felycia . “Nak
, ibu hanya ingin yang terbaik buat kamu
. Ibu hanya mau melihat kamu selalu merasa bahagia,ibu nggak mau melihat kamu
terbenam dalam belenggu kesendirian seperti ini nak . Yasudah , sekarang kamu
tidur ya ,sudah larut malam ini “ucap ibunya sambil mengajak Fely ke tempat
tidurnya . “Selamat malam ya nak “
tambah ibunya sambil mendaratkan kecupan di kening Fely .
Waktu terus berlalu , di hari itu suasana di sekolah tidak berbeda dari hari biasanya . Hanya saja
, Ayu terlihat begitu gelisah di meja
tempat duduknya di kelas . Pandangannya fokus tertuju kearah meja tempat duduk
Felycia yang sudah 3 hari tidak masuk sekolah karena sakit. “Kemana Fely ? apa
sakitnya cukup parah ? “ tanya Ayu dalam
hatinya . Seakan tidak mau rasa
penasarannya memuncak , Ayu berinisiatif untuk menjenguk ke rumah sakit tempat
Felycia dirawat . Sesampainya dirumah sakit , Ayu mendapati ibu Felycia yang
terlihat menangis di depan sebuah ruangan yang bertuliskan ‘UGD’ itu . “Bu , mana Fely ? bagaimana keadaannya
?” tanya Ayu dengan cukup cemas . Mendadak ibu Felycia langsung memeluk Ayu “yu
, sakit Fely semakin parah . Sebenarnya 3 tahun lalu dia di diagnosa mengidap kanker . Dia sengaja tidak
memberitahukan penyakitnya pada teman – temannya karena dia malu . Dia merasa
minder pada kalian , dia bahkan rela melawan kesepiannya karena itu “ ucap ibu
felycia yang terus mengucurkan air mata dalam pelukan ayu . “tapi kenapa dia
sampai merasa seperti itu buk ? aku dan teman – teman ikhlas ingin berteman
dengannya . Aku sama sekali tidak menilai latar belakang Fely , bahkan kami yang
merasa minder padanya karena dia terus menjauhi kami” jawab Ayu yang nampak
terbawa keharuan . Tiba – tiba “buk , pasien sudah sadar ,dia berhasil melewati
masa kritisnya “ tegas salah satu perawat yang keluar dari ruang tempat Felycia
dirawat . Ayu beserta keluarga felycia yang lain bergegas melihat keadaan Fely
. “Alhamdulillah kamu sudah sadar nak “ucap ayah Fely dengan perasaan begitu
bahagia . “Fel” Ayu memanggil Felycia dengan lembut sembari mendekat kearah
Felycia. Ayu tampak begitu kaget melihat keadaan Felycia , tubuhnya begitu
kurus , rambut Felycia tampak berguguran hingga 80 % botak akibat kemoterafi yang harus ia jalani selama
ini, raut wajahnya begitu pucat . Kondisi rambutnya yang sudah mulai berguguran
sejak beberapa bulan ini tertutup dengan anggun dibalik jilbabnya . Bahkan
tidak pernah menimbulkan kecurigaan teman – temannya terhadap kondisi yang
dialami Fely selama ini . “ngapain kamu disini ?” jawab Fely sambil memalingkan
wajahnya dari Ayu .Terlihat air mata mulai jatuh di pelupuk mata Felycia ,seakan hatinya spontan meluapkan
kesepiannya selama ini . “Fel , kamu nggak seharusnya menyembunyikan penderitaan
kamu seperti ini . Aku dan teman – teman yang lain akan merasa sangat bahagia
jika kamu mau membaur bersama – sama . Harusnya kita bisa saling memangku ,
saling berbagi satu sama lain . Pundak kami masih cukup kuat untuk kamu
bersandar Fely” ucap Ayu yang sudah tidak mampu lagi menahan tangisnya .
Perlahan kedua tangannya saling bergantian menyeka air mata yang terjun bebas
dari matanya yang berbinar . “Kalian tidak mengerti yang aku rasain selama
ini yu,aku berbeda dengan kalian,kamu lihat sendiri kondisi aku yang mungkin
menjijikkan bagi kalian, aku nggak mau cum jadi beban buat kalian . Dengan
sakit yang menggerogoti tubuhku ini,hanya akan membuat kalian menjauhiku
seperti teman – teman di sekolahku terdahulu “ tegas Felycia dengan tangisan
yang nampak memuncak .”Nggak Fel . Aku dan teman – teman tulus ingin berteman
dengan kamu , nggak ada yang bakalan nyakitin kamu . Dan sekarang kamu harus
lawan sakit ini , kemudian kita awali kembali semua ini bersama – sama . Tangan
kami akan selalu terbuka menyambut kamu
Fel “jawab Ayu yang nampak erat menggenggam tangan Fely. Felycia nampak begitu terharu ,semuanya larut
dalam suasana saat itu . Felycia memeluk Ayu dengan begitu erat , tangisannya
seolah pecah ketika itu . Fely tampak begitu bahagia , perlahan seolah beban dalam hidupnya mulai mampu dilebur .
Keesokan harinya , Ayu
dan teman – temannya yang lain berinisiatif mengumpulkan dana untuk
biaya pengobatan Felycia . Mulai dari keliling di sekolah , hingga turun
kejalanan sepulang mereka sekolah demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk
Fely . Mereka tampak begitu bersemangat , meski keringat mengucur deras di
tubuh ,terik mataharipun tidak menyurutkan niat mereka sedikitpun .Ketika dana
sudah cukup banyak terkumpul , mereka langsung memberikannya kepada Felycia .Fely
nampak seperti menemukan sebuah dunia baru yang dipancarkan dari ketulusan
teman – temannya ,seperti kekuatan lebih untuk bisa terus bertahan hidup .
Setiap detik terus
berganti menuju menit hingga jam disetiap harinya. Hingga Senja ikut bergantian
dengan sang rembulan memancarkan sinarnya . Dunia seakan turut merasakan
kebahagian yang sudah kembali terlihat . Dihari itu , Felycia nampak seperti
menjalani kehidupan barunya di sekolah .Dia sudah mulai membaur dan berkumpul
bersama teman – temannya di sekolah .Suasana baru yang tidak ia rasakan
sebelumnya. Kebahagian nampak terukir jelas di raut wajahnya , gelak tawa yang
dulunya seolah bersemayam lelap dalam belenggu kesendiriannya , kini mulai
menampakkan diri bersama semua teman – temannya . Felycia benar – benar mendapat
pancaran hidayah yang mulai mampu
menyinari kesepiannya selama ini , seolah tak merasakan apapun dari sakit yang
ia derita . Meskipun masih harus mengakrabkan diri dengan butiran – butiran
obat setiap harinya , tidak mengurangi semangatnya untuk sembuh . <Keep
going on. I trust ,God blest me>#97
~~THE END~~

0 Komentar untuk "Cerpen Sahabat"